Tingkatkan Kompetensi, Pengawas Benih Tanaman Dibekali Materi Kemitraan Usaha

Malang – Sebanyak 21 Pengawas Benih Tanaman (PBT) dari Provinsi Bali dan Maluku mengikuti Pelatihan Dasar Fungsional bagi Pengawas Benih Tanaman Ahli di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan, Kamis (10/9/2026). Peserta dibekali materi Kemitraan Usaha untuk memperkuat kemampuan membangun jejaring kerja dan kemitraan di sektor perbenihan.

Hal tersebut sebagai upaya nyata Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian untuk meningkatkan kompetensi aparatur pertanian yang profesional, adaptif, dan mampu menjawab kebutuhan pembangunan pertanian modern.

Materi Kemitraan Usaha menjadi penting karena tugas PBT tidak berhenti pada aspek teknis pengawasan mutu dan peredaran benih. Realita di lapangan, pengawasan perbenihan juga berhubungan dengan produsen, penangkar, pelaku usaha, kelompok tani, lembaga sertifikasi, hingga pemangku kepentingan lainnya. Oleh karena itu, kemampuan membangun jejaring dinilai menjadi salah satu indikator untuk memperkuat ekosistem perbenihan.

Materi disampaikan oleh Widyaiswara BBPP Ketindan, Nining Hariyani dan Adhis Millia Windhy, dengan pendekatan yang menghubungkan konsep kemitraan dengan persoalan nyata di lapangan. Nining menjelaskan bahwa jejaring kerja, kerja sama, dan kemitraan memiliki karakter, tujuan, tingkat keterikatan, serta mekanisme yang berbeda.

“Pengawas benih tanaman perlu memahami bahwa jejaring kerja bukan hanya memperluas hubungan, tetapi bagaimana hubungan tersebut dapat dikembangkan menjadi kerja sama dan kemitraan yang memberikan manfaat bagi para pihak,” ujar Nining.

Penekanan pentingnya kemampuan peserta mengenali pola kemitraan secara tepat. Dalam materi, peserta diajak memahami tantangan, manfaat, dan ciri jejaring kerja sekaligus mengenal berbagai pola kemitraan yang dapat diterapkan sesuai karakter usaha perbenihan.

“Kemitraan yang baik harus dibangun berdasarkan kebutuhan, tujuan yang jelas, pembagian peran, manfaat yang proporsional, serta komitmen para pihak. Pengawas benih tanaman diharapkan mampu mengidentifikasi dan mengembangkan jejaring yang relevan dengan kebutuhan perbenihan di wilayah kerjanya,” imbuh Adhis.

Pembelajaran tidak hanya dilakukan melalui ceramah. Peserta juga terlibat dalam diskusi interaktif dan pemecahan studi kasus secara berkelompok. Pendekatan tersebut diarahkan agar pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada pemahaman konseptual, tetapi dapat diterjemahkan menjadi kemampuan mengambil keputusan dan menyusun strategi kemitraan.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebelumnya menegaskan bahwa kualitas sumber daya manusia merupakan faktor penting dalam mewujudkan pertanian yang maju dan modern.

“SDM adalah elemen krusial dalam pembangunan pertanian. Kita bertanggung jawab mencetak SDM berkualitas dan kompeten,” ujar Amran.

Sementara itu, Kepala BPPSDMP, Idha Widi Arsanti, menempatkan penguatan kompetensi sebagai bagian penting pembangunan SDM pertanian. BPPSDMP menegaskan bahwa peningkatan kompetensi aparatur diperlukan agar SDM pertanian semakin profesional, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta mampu mendukung program strategis Kementerian Pertanian.

Melalui pelatihan tersebut, penguatan kapasitas PBT diarahkan bukan hanya pada penguasaan kompetensi teknis, tetapi juga kemampuan membangun kolaborasi. Di tengah tuntutan peningkatan produktivitas, mutu, dan daya saing perbenihan, jejaring dan kemitraan menjadi instrumen strategis untuk memperkuat kinerja pengawasan sekaligus mendukung program pertanian nasional secara berkelanjutan. Adhis Millia Windhy/ Nining Hariyani*

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *