Merauke – Upaya memperkuat Brigade Pangan sebagai motor modernisasi pertanian terus dipacu melalui peningkatan kapasitas pengelolaan alat dan mesin pertanian (alsintan). Salah satunya diwujudkan melalui Pelatihan Brigade Pangan (Manajemen Alsintan) Angkatan XVII yang digelar pada 13–15 April 2026 di Papua Selatan.
Pelatihan ini tidak sekadar membekali keterampilan teknis, tetapi juga menanamkan fondasi manajemen usaha yang berkelanjutan. Sebanyak 30 peserta dari Brigade Pangan Sinar Jaya dan Brigade Pangan Sumber Rejeki mengikuti kegiatan ini secara intensif.
Materi yang diberikan mencakup pengenalan, pengoperasian, hingga perawatan alsintan utama seperti traktor roda empat (TR4), rice transplanter, dan combine harvester. Seluruh materi dirancang aplikatif agar dapat langsung diterapkan di lapangan.
Koordinator Akademik, Laila Nuzuliyah, menjelaskan bahwa pelatihan ini menekankan keseimbangan antara kemampuan teknis dan manajerial. “Peserta tidak hanya dilatih mengoperasikan alsintan secara efektif, efisien, dan aman, tetapi juga dibekali pencatatan usahatani sebagai dasar pengambilan keputusan usaha,” ujarnya.
Menurutnya, pencatatan yang baik menjadi kunci dalam menghitung biaya operasional, mengevaluasi kinerja alat, hingga menentukan strategi pengembangan usaha.
Lebih jauh, peserta juga diberikan pemahaman pentingnya penyusutan alsintan sebagai bagian dari biaya tetap. Melalui pendekatan ini, Brigade Pangan didorong untuk menyisihkan pendapatan dari jasa alsintan sebagai dana cadangan.
“Dengan perencanaan yang baik, saat umur ekonomis alat habis, Brigade Pangan sudah siap melakukan penggantian tanpa mengganggu keberlanjutan usaha,” tambahnya.
Pelatihan dilaksanakan secara terpadu melalui kombinasi teori dan praktik lapangan. Peserta berkesempatan langsung mengoperasikan alsintan serta melakukan simulasi perawatan rutin guna menjaga performa alat tetap optimal.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa modernisasi pertanian tidak cukup hanya dengan penyediaan alsintan, tetapi harus diiringi manajemen yang profesional.
“Alsintan adalah aset usaha. Harus dikelola secara ekonomis melalui pencatatan biaya, perawatan rutin, dan perencanaan penggantian,” tegasnya.
Senada, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menyampaikan bahwa penguatan SDM menjadi faktor penentu keberhasilan Brigade Pangan.
“Pelatihan ini tidak hanya meningkatkan keterampilan, tetapi juga membentuk pola pikir kewirausahaan dalam pengelolaan alsintan agar mampu memberi nilai tambah ekonomi,” ujarnya.
Melalui pelatihan ini, para peserta diharapkan mampu meningkatkan efisiensi usaha tani, menekan biaya produksi, serta mendorong produktivitas pertanian di Papua Selatan.
Ke depan, program serupa akan terus diperluas sebagai bagian dari transformasi menuju pertanian modern yang efisien, berkelanjutan, dan berdaya saing, sekaligus memperkuat peran Brigade Pangan sebagai penggerak ekonomi pertanian di tingkat lapangan. Laila Nuzuliyah*






