Malang – Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) terus mempercepat transformasi pertanian modern berbasis teknologi digital. Komitmen tersebut terlihat saat Kepala BPPSDMP, Idha Widi Arsanti, meninjau pengembangan Smart Greenhouse di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan, Malang, Jawa Timur, Jumat (15/5/2026).
Dalam kunjungan kerja tersebut, Idha Widi Arsanti memberikan apresiasi terhadap pengelolaan BBPP Ketindan yang dinilai berhasil menghadirkan ekosistem pertanian modern melalui penerapan teknologi, tata kelola lingkungan yang bersih, serta sistem budidaya yang terintegrasi.
Salah satu fokus utama kunjungan adalah melihat implementasi program K-Smart, proyek kerja sama antara BBPP Ketindan dengan Pemerintah Korea Selatan. Melalui kolaborasi ini, BBPP Ketindan memperoleh hibah fasilitas Smart Greenhouse (SGH) yang kini telah beroperasi secara optimal untuk mendukung produksi komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi.
Fasilitas tersebut berhasil membudidayakan berbagai varietas melon premium, salah satunya Sweet Lavender yang memiliki tekstur renyah (crispy) dengan tingkat kemanisan mencapai 15 derajat Brix. Selain itu, terdapat varietas unggulan lain seperti Sweet Hami dan Inthanon yang dikembangkan dengan sistem budidaya berbasis teknologi presisi.
Tidak hanya berfokus pada produksi, pengembangan Smart Greenhouse ini juga telah terintegrasi dengan sistem pemasaran (off-taker). Hasil panen melon premium BBPP Ketindan telah memiliki kepastian pasar sehingga harga jual dapat terjaga stabil, mencapai sekitar Rp30.000 per kilogram.
“Ini adalah capaian yang luar biasa. Kami berharap inovasi teknologi greenhouse maupun screen house ini tidak berhenti di sini, tetapi dapat segera disebarluaskan dan diadopsi oleh petani sayuran dan buah di wilayah sekitar,” ujar Kepala BPPSDMP, Idha Widi Arsanti.
Sebagai bentuk hilirisasi inovasi dan transfer teknologi kepada masyarakat, BBPP Ketindan juga mengembangkan konsep Low-Cost Smart Farming, yakni model pertanian pintar berbiaya rendah hasil adaptasi teknologi Smart Greenhouse Korea. Inovasi ini dirancang agar lebih terjangkau dan mudah direplikasi oleh petani lokal, khususnya dalam budidaya melon premium dengan investasi yang lebih efisien.
Upaya modernisasi sektor hortikultura ini sejalan dengan arahan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, yang menegaskan bahwa penerapan teknologi pertanian modern merupakan kebutuhan dalam menghadapi tantangan pangan masa depan.
“Kita harus benar-benar masuk ke pertanian 4.0. Smart farming berbasis digitalisasi harus menjadi kenyataan,” tegas Mentan Amran.
Ia menambahkan, pemanfaatan teknologi diyakini mampu meningkatkan efisiensi usaha tani, menekan biaya produksi, serta memperkuat daya saing pertanian nasional.
“Teknologi harus kita gunakan. Ke depan, kami yakin biaya produksi bisa turun,” tambahnya.
Menurut Mentan, adopsi teknologi pertanian modern yang telah berkembang di berbagai negara perlu diterapkan secara lebih luas di Indonesia. Selain meningkatkan produktivitas, transformasi ini juga diyakini mampu membuka peluang kerja baru bagi generasi muda dan menarik investasi untuk memperkuat ketahanan serta kedaulatan pangan nasional. Aulia Wardhani/Humas BBPP Ketindan






