Jakarta – Proyek CSAM-BRMP mendorong petani mengubah sisa panen menjadi sumber nilai ekonomi melalui mekanisasi dan model pertanian sirkular.
Sisa panen selama ini masih kerap dianggap sebagai limbah yang harus dibuang dari lahan.
Padahal, jerami dan bagian tanaman yang tersisa setelah panen masih memiliki nilai dan dapat dimanfaatkan kembali.
Melalui proyek Centre for Sustainable Agricultural Mechanization (CSAM) bersama Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Mekanisasi Pertanian (BRMP Mektan), sisa panen tersebut mulai diarahkan menjadi sumber daya yang memiliki nilai ekonomi bagi petani.
Konsep yang dikembangkan adalah ekonomi sirkular atau pertanian sirkular.
Sederhananya, bahan yang tersisa dari kegiatan pertanian tidak langsung dibuang, tetapi dimanfaatkan kembali menjadi produk lain yang berguna.
Dengan cara ini, manfaat dari hasil usaha tani tidak berhenti pada produk utama yang dipanen.
Kepala BRMP Mektan, Arief Rachman mengatakan, upaya tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam National Multi Stakeholder Dialogue yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk berbagi pengalaman sekaligus mencari cara yang tepat dalam mengelola residu pertanian di lapangan.
“Intinya adalah berbagi pengalaman dalam hal pengelolaan residu pertanian yang ada di lahan,” kata Arief.
Bagi Arief, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengubah cara pandang terhadap sisa tanaman, terutama jerami.
Setelah padi dipanen, jerami tidak semestinya langsung dianggap sebagai sampah yang harus disingkirkan.
“Jerami itu bukan residu. Sebenarnya itu adalah sumber daya yang masih bisa kita manfaatkan,” ujarnya.
Perubahan cara pandang itu menjadi penting karena pengelolaan sisa panen tidak hanya berkaitan dengan kebersihan lahan.
Jika dimanfaatkan dengan baik, jerami dapat menjadi bahan baku untuk kegiatan produktif lain sehingga berpeluang memberikan nilai tambah bagi petani.
Upaya mengubah sisa panen menjadi sumber daya tersebut tidak berhenti pada gagasan.
Model pemanfaatannya sudah mulai diterapkan melalui proyek yang berjalan sejak 2024 di tiga lokasi, yakni Serpong, Karawang, dan Yogyakarta.
Salah satu contoh penerapannya terlihat di Karawang, dimana Jerami yang sebelumnya dibuang di sawah dikumpulkan dan dimanfaatkan sebagai media tanam untuk budidaya jamur.
Praktik tersebut memperlihatkan bagaimana sisa dari satu kegiatan pertanian dapat digunakan untuk mendukung kegiatan usaha lain.
Jerami yang sebelumnya tidak memiliki nilai bagi petani kemudian menjadi bagian dari proses produksi jamur.
Hasilnya pun sudah terlihat di tingkat petani, Arief mengatakan, petani di Karawang telah berhasil memanfaatkan jerami tersebut untuk budidaya jamur dan bahkan sudah melakukan panen.
“Sudah berhasil, sudah bisa dipakai oleh petani-petani di Karawang untuk membuat jamur. Sudah menghasilkan, sudah panen,” kata Arief.
Keberhasilan di Karawang menjadi salah satu contoh bahwa pemanfaatan residu pertanian dapat memberikan manfaat nyata apabila didukung pengetahuan, teknologi, dan pengelolaan yang tepat.
Meski demikian, BRMP Mektan belum menghitung secara pasti persentase peningkatan jumlah sisa panen yang berhasil dimanfaatkan selama proyek berlangsung.
Fokus saat ini adalah memastikan model tersebut dapat diterapkan dan terus dikembangkan sesuai kondisi petani.
Proyek ini pun direncanakan berjalan hingga 2028 dan dalam periode tersebut, pemanfaatan sisa panen tidak akan dibatasi pada satu jenis produk saja.
“Ke depan mungkin tidak hanya untuk jamur. Diharapkan ini bisa menjadi komoditas lain, produk lain,” ujar Arief.
Artinya, pengalaman yang sudah berjalan di tiga lokasi masih terbuka untuk dikembangkan.
Jenis sisa panen, kondisi wilayah, kebutuhan petani, serta peluang pasar nantinya menjadi pertimbangan dalam menentukan pemanfaatan yang paling sesuai.
Agar pemanfaatan tersebut dapat dilakukan lebih luas, persoalan berikutnya adalah bagaimana sisa panen dapat dikumpulkan dan diolah dengan cara yang lebih cepat serta tidak menambah beban petani.
Pada titik inilah mekanisasi pertanian menjadi bagian penting dari model yang dikembangkan.
Mesin dapat membantu pekerjaan seperti mengumpulkan, memindahkan, mencacah, atau mengolah sisa tanaman.
Dengan bantuan mekanisasi, pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan banyak tenaga dan waktu diharapkan dapat dilakukan secara lebih efisien.
Namun, penggunaan mesin tidak berarti semua teknologi dapat langsung diterapkan di setiap wilayah.
Deputy Head CSAM Marco Silvestri mengatakan, mesin dan teknologi harus disesuaikan dengan kondisi lokal.
Kondisi lahan, jenis tanaman, iklim, skala usaha tani, hingga kemampuan petani menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Karena itu, mekanisasi bukan sekadar menghadirkan mesin, tetapi memastikan teknologi tersebut benar-benar menjawab kebutuhan petani.
Dalam pengelolaan jerami, misalnya, teknologi yang digunakan harus mampu membantu proses pengumpulan dan pengolahan tanpa membuat biaya dan kebutuhan tenaga kerja justru menjadi lebih besar.
Pendekatan tersebut sekaligus menjadi alasan mengapa pengalaman antarnegara perlu dipertukarkan.
Teknologi yang sudah berhasil di satu tempat dapat dipelajari, tetapi penerapannya tetap harus disesuaikan dengan kondisi setempat.
Penyesuaian teknologi tersebut menjadi semakin penting karena proyek CSAM tidak hanya berbicara mengenai kebutuhan Indonesia.
Sebagai lembaga di bawah Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia dan Pasifik (UN ESCAP), CSAM juga mempertemukan pengalaman dari berbagai negara di kawasan.
Marco mengatakan, CSAM menghadirkan sejumlah pakar dari Asia dan Pasifik untuk berbagi pengalaman mengenai mekanisasi dan pengelolaan residu pertaniqn di negara masing-masing.
Para ahli dari China dan India, antara lain, turut memberikan pengalaman dalam kegiatan tersebut.
CSAM juga memfasilitasi diskusi dengan negara-negara yang menjadi lokasi proyek percontohan, termasuk Kamboja, Nepal, Thailand, dan Laos. Sejumlah kegiatan lainnya juga dilakukan di Vietnam dan China.
Dari pertukaran pengalaman itu, negara-negara peserta dapat melihat solusi yang telah diterapkan di wilayah lain.
Namun, solusi tersebut tidak serta-merta disalin, melainkan dipelajari untuk kemudian disesuaikan dengan kebutuhan lokal.
“Indonesia juga dapat memperoleh ide dan cara baru untuk menerapkan solusi-solusi yang inovatif,” kata Marco.
Sebaliknya, pengalaman Indonesia dalam memanfaatkan jerami juga dapat menjadi pembelajaran bagi negara lain yang menghadapi persoalan serupa.
Pengembangan model tersebut kemudian tidak hanya berhenti pada pemanfaatan fisik sisa panen dan penggunaan mesin.
Pengambilan keputusan mengenai teknologi dan pengelolaannya juga perlu didukung data agar solusi yang dipilih benar-benar sesuai dengan kondisi lapangan.
Tenaga Ahli Menteri Pertanian Bidang Pengembangan Pertanian Presisi, Prof Desrial, mengatakan hal tersebut sejalan dengan konsep mekanisasi pertanian berkelanjutan yang dikembangkan CSAM.
Pertanian dan Kehutanan
Menurutnya, pertanian ke depan harus mampu memanfaatkan sumber daya yang tersedia secara maksimal. Karena itu, setiap bagian dari kegiatan usaha tani perlu dilihat potensinya agar tidak berakhir sebagai limbah.
“Semua kita gunakan secara maksimal,” ujar Desrial.
Konsep tersebut dikenal sebagai circular agriculture atau pertanian sirkular.
Dalam pola ini, sisa dari satu proses pertanian dapat dimanfaatkan kembali untuk proses lainnya sehingga penggunaan sumber daya menjadi lebih efisien.
Untuk mendukungnya, data dari berbagai negara juga perlu dikumpulkan.
Prof. Desrial menilai semakin banyak data dan pengalaman yang tersedia, semakin kuat pula dasar untuk menentukan teknologi dan kebijakan yang sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah.
Teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dapat menjadi salah satu alat bantu dalam mengolah data tersebut.
Teknologi & Rekayasa
Namun, kualitas keputusan tetap bergantung pada kualitas data yang digunakan.
Karena itu, pengalaman petani, penyuluh, peneliti, pemerintah, dan pelaku usaha tetap memiliki peran penting dalam membangun basis data pertanian.
Semakin lengkap informasi mengenai kondisi lahan, komoditas, mesin, hasil produksi, serta cara pengelolaan sisa panen, semakin besar peluang teknologi digunakan untuk menghasilkan keputusan yang lebih tepat.
Pada akhirnya, teknologi hanya akan memberikan manfaat apabila dapat digunakan dan diterapkan di tingkat petani.
Karena itu, keberhasilan ekonomi sirkular tidak hanya bergantung pada mesin atau teknologi, tetapi juga pada pengetahuan dan keterlibatan petani serta penyuluh.
Bagi petani, penerapannya dapat dimulai dari langkah sederhana, yakni tidak langsung menganggap semua sisa panen sebagai sampah.
Jerami, sekam, batang, daun, dan bagian tanaman lainnya dapat dilihat sebagai bahan yang masih memiliki manfaat.
Bentuk pemanfaatannya tentu berbeda-beda, tergantung komoditas, kondisi wilayah, serta kebutuhan usaha tani.
Jerami, misalnya, dapat dimanfaatkan sebagai bahan pupuk, pakan ternak, maupun media tanam.
Dengan teknologi pengolahan yang tepat, bahan tersebut bahkan dapat menjadi bagian dari usaha produktif lain seperti yang sudah dilakukan petani di Karawang.
Di sinilah penyuluh memiliki posisi penting untuk membantu petani melihat peluang tersebut. Penyuluh dapat mengenalkan pilihan pemanfaatan residu yang sesuai dengan kondisi wilayah sekaligus membantu petani memahami teknologi yang tersedia.
Mekanisasi kemudian membantu membuat proses pengumpulan dan pengolahan menjadi lebih mudah dan efisien.
Sementara pertanian presisi dan pemanfaatan data membantu menentukan pilihan teknologi yang lebih sesuai.
Pertanian dan Kehutanan
Ketiganya akhirnya saling terhubung, dimana sisa panen dimanfaatkan kembali melalui konsep ekonomi sirkular, mekanisasi membantu prosesnya, sementara data dan pertanian presisi membantu menentukan cara yang paling tepat.
Dengan demikian, praktik yang berkembang di tiga lokasi proyek di Indonesia tidak hanya menjadi pengalaman lokal.
Jika terbukti sesuai dan berhasil, model tersebut dapat menjadi salah satu referensi bagi pengembangan pertanian berkelanjutan di kawasan Asia Pasifik. MEKTAN






