Malang – Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan bekerja sama dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu menyelenggarakan Pelatihan Metodologi Penyuluhan Pertanian bagi Pengelola Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) secara blended learning, 2–6 November 2026. Kegiatan ini diikuti 30 orang pengelola P4S dan dilanjutkan dengan sertifikasi kompetensi untuk memperkuat kemampuan mereka dalam menyelenggarakan penyuluhan dan pembelajaran pertanian.
Kepala BBPP Ketindan, Nurul Qomariyah, saat membuka pelatihan di Malang, Senin (2/11), menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan pertanian tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan sarana produksi, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang mampu menerapkan inovasi sesuai kebutuhan di lapangan.
Menurutnya, P4S memiliki potensi besar sebagai pusat pembelajaran berbasis pengalaman nyata petani. Selain menjadi tempat berbagi pengetahuan dan keterampilan, P4S diharapkan mampu berkembang sebagai pusat inovasi, kewirausahaan, regenerasi petani, serta penguatan kelembagaan pertanian di wilayahnya.
“Keberhasilan suatu kegiatan penyuluhan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak materi yang disampaikan, tetapi juga oleh bagaimana materi tersebut disampaikan sehingga mudah dipahami, diterima, dan diterapkan oleh sasaran penyuluhan,” ujar Nurul dalam sambutannya.
Ia menjelaskan, pengelola P4S perlu memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi kebutuhan belajar peserta, menentukan metode penyuluhan yang tepat, menyusun rencana pembelajaran, menggunakan media yang efektif, serta mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran.
Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan mampu merancang dan melaksanakan kegiatan penyuluhan secara lebih sistematis, partisipatif, dan sesuai dengan kebutuhan pelaku utama serta pelaku usaha pertanian.
Penguatan kompetensi tersebut juga sejalan dengan arah pembangunan Kementerian Pertanian yang menempatkan sumber daya manusia sebagai salah satu faktor penting dalam percepatan swasembada pangan. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam berbagai arahannya menekankan pentingnya peran penyuluh dalam mengawal program pemerintah hingga tingkat lapangan.
“Penyuluh pertanian menjadi garda terdepan dalam menjaga keberlanjutan swasembada pangan nasional,” tegas Amran dalam agenda penguatan peran penyuluh pertanian pada Oktober 2026.
Dalam konteks tersebut, penguatan kapasitas pengelola P4S menjadi langkah strategis untuk memperluas jangkauan pembelajaran pertanian berbasis masyarakat. P4S dapat menjadi mitra penyuluh dalam menyebarluaskan inovasi, membagikan praktik baik, serta mendorong petani agar lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan usaha.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas kelembagaan P4S sebagai bagian dari pengembangan SDM pertanian.
“P4S merupakan mitra strategis pemerintah yang bersentuhan langsung dengan petani. Melalui pelatihan dan peningkatan kompetensi yang berkelanjutan, kita ingin memastikan para pengelola P4S dan penyuluh memiliki sarana serta bahan ajar yang relevan dan inovatif untuk menunjang transfer pengetahuan yang efektif,” ungkap Idha dalam kegiatan pembinaan P4S yang dipublikasikan BPPSDMP pada September 2026.
Dukungan terhadap penguatan peran P4S juga disampaikan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu, Hendry Suseno. Ia menyampaikan apresiasi kepada BBPP Ketindan atas fasilitasi pelatihan melalui kerja sama kedua instansi.
Hendry berharap pengelola P4S dapat semakin berperan dalam mendukung kegiatan penyuluhan pertanian, terutama melalui sinergi dengan penyuluh pertanian di wilayah masing-masing. Dengan demikian, keberadaan P4S dapat membantu memperkuat pendampingan petani serta memperluas akses terhadap informasi dan inovasi pertanian.
Pelatihan ini menjadi semakin penting di tengah perubahan tata kelola penyuluhan pertanian dan kebutuhan penguatan pendampingan di tingkat petani. Pengelola P4S diharapkan mampu mengambil peran lebih aktif melalui kegiatan pembelajaran, permagangan, dan diseminasi teknologi yang sesuai dengan kondisi serta potensi wilayah.
Selain peningkatan kompetensi metodologi penyuluhan, kegiatan ini juga dilanjutkan dengan sertifikasi kompetensi. Tahapan tersebut diharapkan dapat memperkuat profesionalisme pengelola P4S dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran pertanian secara mandiri dan berkualitas.
Nurul Qomariyah berharap para peserta dapat memanfaatkan pelatihan untuk memperluas wawasan, berbagi pengalaman, serta membangun jejaring dengan sesama pengelola P4S dan pemangku kepentingan lainnya.
“Jadikan pelatihan ini sebagai ruang untuk saling belajar. Pengalaman yang Saudara bawa dari lapangan merupakan kekuatan yang sangat berharga. Dengan saling berbagi praktik baik, kita dapat memperkaya wawasan dan menemukan pendekatan pembelajaran yang lebih tepat bagi petani,” pesannya.
Melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah dan penguatan kompetensi pengelola P4S, BBPP Ketindan terus mendorong tumbuhnya kelembagaan pembelajaran pertanian yang profesional, mandiri, dan berkelanjutan. Upaya ini diharapkan dapat memperluas manfaat penyuluhan, meningkatkan kapasitas petani, serta mendukung terwujudnya pertanian Indonesia yang maju, mandiri, dan modern. Humas BBPP Ketindan






