Petani Muda Lamongan Belajar Budidaya Melon Berbasis IoT di UPT Kementan

Malang – Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan menerima kunjungan field trip dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Lamongan Jumat (6/11/2026).

Kunjungan bertema “Modernisasi Budidaya Melon Berbasis Internet of Things (IoT)” ini diikuti 40 peserta, terdiri dari 27 petani milenial, penyuluh pertanian, serta jajaran DKPP Kabupaten Lamongan. Rombongan dipimpin Kepala Bidang Penyuluhan DKPP Lamongan, Anis Sugiharti.

Ketua Kelompok Substansi Program dan Evaluasi, Astutiningsih, dalam sambutannya mewakili Kepala BBPP Ketindan, berharap kunjungan ini menjadi ruang berbagi pengetahuan dan bertukar pengalaman untuk memperkuat kapasitas SDM pertanian menghadapi perkembangan teknologi.

Menurut Astutiningsih, sektor pertanian dihadapkan pada perubahan iklim, keterbatasan sumber daya, dan meningkatnya biaya produksi, di samping tuntutan menghasilkan produk yang berkualitas dan berdaya saing.

“Pertanian tidak bisa lagi hanya mengandalkan cara-cara konvensional,” ujarnya. Salah satu jawabannya adalah smart farming dengan memanfaatkan IoT.

“Pada budidaya melon, IoT membantu petani memantau dan mengendalikan suhu, kelembapan, serta kebutuhan air dan nutrisi tanaman. Dengan dukungan data itu, keputusan budidaya tidak lagi berdasarkan perkiraan, tetapi berdasarkan kondisi aktual di lapangan,” jelasnya.

Sementara itu, mewakili Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, Anis Sugiharti, menyampaikan terima kasih atas sambutan baik BBPP Ketindan. Ia mengakui, “Kami masih buta dengan budidaya melon.” Menurutnya, pertanian kerap dipandang identik dengan pekerjaan kotor, fisik yang melelahkan, dan hasil panen yang tidak pasti. Karena itu, DKPP Lamongan memilih belajar ke BBPP Ketindan untuk mempelajari budidaya hortikultura, khususnya melon, yang modern dan berbasis IoT.

“Harapannya, petani bisa memonitor secara real time menggunakan smartphone dan meminimalkan gagal panen,” kata Anis.

Ia berharap field trip ini menjadi momentum bagi generasi muda untuk menjadi petani modern di era digital, sekaligus membawa pulang inspirasi dan keberanian berinovasi.

“Petani Lamongan harus smart, adaptif, dan berdaya saing,” tegasnya.

Semangat ini sejalan dengan arah Kementerian Pertanian. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan dua kunci utama menarik generasi muda terjun ke pertanian, yaitu teknologi modern dan keuntungan yang jelas. Mentan juga menegaskan, “Petani milenial adalah tulang punggung masa depan pertanian Indonesia.”

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, juga mendorong petani milenial menerapkan smart farming. Ia menyatakan, “Sudah saatnya petani Indonesia maju di bidang pertanian” melalui adopsi teknologi.

Menurutnya, penerapan pertanian cerdas tidak selalu mahal karena bisa memakai pendekatan low cost smart farming, misalnya smart green house dengan sensor dan kontrol nutrisi otomatis seperti yang sudah diterapkan di BBPP Ketindan.

Astutiningsih juga berharap kunjungan ini tidak berhenti pada berbagi informasi, tetapi berlanjut menjadi kerja sama dan tindak lanjut yang nyata. Ilmu yang diperoleh diharapkan dibagikan kepada kelompok tani lainnya dan menginspirasi pengembangan pertanian modern di Kabupaten Lamongan. Humas BBPP Ketindan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *