Kementan Kenalkan 3 Teknologi Smart Farming Canggih di PENAS XVII Gorontalo

Gorontalo– Kementerian Pertanian kenalkan 3 teknologi smart farming canggih di PENAS XVII Gorontalo, yang terdiri dari drone multispektral hingga pompa tenaga surya untuk pertanian modern.

Kementerian Pertanian (Kementan) menghadirkan berbagai inovasi pertanian modern dalam Gelar Teknologi Pekan Nasional (PENAS) Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) XVII di Gorontalo yang berlangsung pada 20-25 Juni 2026.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah hadirnya tiga teknologi pendukung smart farming, yakni drone multispektral, smart greenhouse berbasis otomatisasi, dan pompa irigasi tenaga surya.

Berbagai inovasi tersebut ditampilkan dalam satu kawasan percontohan pertanian modern yang dimotori Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kementerian Pertanian.

Melalui kawasan demonstrasi tersebut, petani dapat melihat secara langsung cara kerja teknologi sekaligus memahami manfaatnya dalam meningkatkan produktivitas usaha tani.

Kepala BRMP Kementan, Fadjry Djufry, mengatakan Gelar Teknologi PENAS XVII menjadi jembatan antara inovasi dan pengguna teknologi.

“Gelar Teknologi PENAS XVII menjadi jembatan antara inovasi dan pengguna teknologi. Melalui kegiatan ini, petani dapat mengenal berbagai inovasi pertanian yang telah siap diterapkan sekaligus memperoleh informasi yang dibutuhkan untuk mendukung pengembangan usaha tani mereka,” kata Fadjry dalam keterangannya.

Menurut dia, pendekatan demonstrasi lapangan memberikan pengalaman belajar yang lebih nyata dibandingkan penyampaian informasi secara konvensional.

“Teknologi akan lebih cepat diadopsi ketika petani melihat sendiri hasil dan manfaatnya di lapangan. Karena itu, Gelar Teknologi kami rancang sebagai ruang belajar yang memungkinkan petani mengamati langsung penerapan inovasi sekaligus memahami peluang penerapannya sesuai kondisi wilayah dan usaha tani masing-masing,” ujarnya.

Drone Multispektral

Salah satu teknologi yang diperkenalkan Kementan adalah drone multispektral yang menjadi bagian dari sistem precision farming atau pertanian presisi.

Drone tersebut dibekali kamera multispektral yang mampu menangkap beberapa spektrum cahaya, yakni biru (blue), hijau (green), merah (red), red edge, dan near infrared (NIR). Kombinasi spektrum tersebut memungkinkan kondisi tanaman dianalisis secara lebih detail dibandingkan pengamatan secara visual.

Data hasil pemotretan kemudian diolah menjadi indeks vegetasi seperti Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). Melalui teknologi tersebut, petani dapat mengetahui tingkat kesehatan tanaman, mendeteksi kekurangan unsur hara, mengidentifikasi serangan hama dan penyakit sejak dini, hingga memantau kebutuhan air tanaman.

Secara umum, drone multispektral memiliki kemampuan terbang selama 40 hingga 55 menit dalam satu kali pengisian baterai. Jangkauan pemetaannya mampu mencapai puluhan bahkan ratusan hektare dalam sehari.

Drone ini juga dilengkapi sistem navigasi GPS dan RTK (Real Time Kinematic) yang memungkinkan akurasi posisi hingga tingkat sentimeter.

Selain mampu melakukan pemetaan otomatis dan pengambilan gambar beresolusi tinggi, data yang diperoleh dapat diolah menjadi peta kesehatan tanaman, peta kelembaban lahan, serta rekomendasi pemupukan yang lebih tepat.

Teknologi tersebut dinilai mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk dan air sekaligus membantu petani mengambil keputusan berbasis data.

Smart Greenhouse

Kementan juga menghadirkan smart greenhouse yang dirancang menggunakan sistem budidaya modern berbasis Internet of Things (IoT) dan otomatisasi.

Fasilitas smart greenhouse ini dibangun dengan desain yang cukup besar dan terukur. Bangunan memiliki dimensi utama 23,2 meter x 16 meter, dilengkapi area ekstensi berukuran 2 meter x 9,6 meter.

Dengan konfigurasi tersebut, total luas bangunan mencapai 390,4 meter persegi dengan tinggi struktur sekitar enam meter. Ukuran ini memungkinkan pengelolaan iklim mikro yang lebih stabil sekaligus memberi ruang optimal bagi sistem budidaya modern di dalamnya.

Dari sisi konstruksi, bagian atap menggunakan plastik UV dengan tingkat perlindungan 14 persen dan ketebalan 200 mikron. Material ini berfungsi untuk mengatur intensitas cahaya matahari yang masuk sekaligus melindungi tanaman dari paparan radiasi berlebih.

Sementara itu, dinding bangunan dilengkapi insect net 40 mesh yang dipadukan dengan lapisan plastik UV, sehingga mampu mengurangi risiko serangan hama tanpa mengganggu sirkulasi udara alami di dalam greenhouse.

Sistem budidaya yang diterapkan menggunakan metode Nutrient Film Technique (NFT), salah satu teknik hidroponik modern yang mengalirkan larutan nutrisi secara tipis dan kontinu ke akar tanaman.

Sistem ini dikenal lebih hemat air dan nutrisi, sekaligus memungkinkan pertumbuhan tanaman yang lebih seragam dan terkontrol.

Di dalam fasilitas tersebut juga terdapat meja tanam berukuran 6 meter x 1,4 meter yang menjadi area utama produksi tanaman. Selain itu, terdapat sistem shading net dengan tingkat peneduhan 35 persen yang dapat bekerja secara otomatis melalui mekanisme on-off.

Sistem ini berfungsi untuk mengatur intensitas cahaya matahari yang masuk sesuai kebutuhan tanaman pada setiap fase pertumbuhan.

Untuk mendukung stabilitas lingkungan, smart greenhouse ini dilengkapi delapan unit circulation fan dengan kapasitas masing-masing 5.500 meter kubik per jam dan daya 120 watt per unit.

Sistem ini memiliki jangkauan sirkulasi udara efektif antara 16 hingga 21 meter, sehingga suhu dan kelembapan di dalam ruangan dapat tersebar secara merata dan konsisten.

Selain itu, tersedia sistem pendingin atau coolnet dengan debit aliran 4 x 5,5 liter per jam dan tekanan kerja empat bar. Sistem ini berfungsi menurunkan suhu udara ketika kondisi lingkungan meningkat, sehingga tanaman tetap berada pada kondisi ideal untuk tumbuh.

Kombinasi antara kipas sirkulasi dan sistem pendingin ini menjadikan pengaturan iklim mikro lebih stabil dan adaptif terhadap perubahan cuaca.

Seluruh sistem dalam smart greenhouse ini terintegrasi melalui platform otomatisasi bernama DESIROBO yang dapat diakses menggunakan sistem operasi Windows.

Melalui platform ini, berbagai perangkat dapat dikendalikan secara terpusat, mulai dari pompa irigasi, pompa pendingin, motor shading, hingga kipas sirkulasi udara. Integrasi ini memungkinkan pengelolaan greenhouse dilakukan secara lebih efisien dan minim intervensi manual.

Tidak hanya itu, sistem ini juga dilengkapi berbagai sensor canggih untuk memantau kondisi lingkungan secara real time.

Sensor tersebut mencakup pengukuran pH dan EC nutrisi, suhu nutrisi, suhu dan kelembaban udara, intensitas cahaya, hingga konsentrasi karbon dioksida (CO2). Data dari sensor ini menjadi dasar dalam pengambilan keputusan otomatis oleh sistem.

Proses pencampuran pupuk dilakukan menggunakan tiga pompa peristaltik yang terhubung dengan jaringan internet melalui modem 4G.

Dengan sistem ini, distribusi nutrisi dapat diatur secara presisi sesuai kebutuhan tanaman. Jadwal irigasi, pengaturan pH, hingga pemberian nutrisi dapat berjalan otomatis berdasarkan parameter yang telah ditentukan sebelumnya.

Secara keseluruhan, smart greenhouse ini menjadi representasi nyata transformasi pertanian berbasis teknologi digital. Dengan integrasi IoT, sensor otomatis, dan sistem kontrol terpusat, Kementan berharap produktivitas pertanian dapat meningkat, penggunaan sumber daya lebih efisien, serta risiko gagal panen dapat ditekan secara signifikan di masa mendatang.

Dari sisi pengujian teknis, terdapat dua unit smart greenhouse yang sudah tercatat dalam laporan resmi (test report). Smart ASH M307 memiliki nomor test report 5251.194/PT.05.03/mektan dengan TKDN sebesar 32,48 persen serta belum memiliki sertifikasi maupun SNI.

Sementara itu, Smart ASH S320 tercatat dengan nomor test report 5223.194/PT.05.03/mektan dengan TKDN 29,49 persen dan juga belum memiliki sertifikasi serta SNI.

Data ini menunjukkan bahwa kedua perangkat telah melalui tahap pengujian teknis, meski masih berada pada tahap pengembangan sebelum menuju standardisasi lebih lanjut.

Pompa Irigasi Tenaga Surya

Inovasi lainnya yang ditampilkan dalam Gelar Teknologi PENAS XVII adalah pompa irigasi tenaga surya atau solar pump yang memanfaatkan energi matahari sebagai sumber tenaga.

Pompa ini memanfaatkan energi matahari sebagai sumber tenaga sehingga dapat menjadi solusi pengairan yang ramah lingkungan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar maupun listrik konvensional.

Pompa Kapuas Solar Pump yang dipamerkan menggunakan panel surya berkapasitas 590 watt peak (Wp) dengan daya maksimum sekitar 441 watt. Sistem tersebut dilengkapi hybrid solar pumping controller tiga fase dan variable speed drive (VSD).

Pada pompa berukuran enam inci, kapasitas debit air mencapai sekitar 3,30 hingga 3,40 meter kubik per menit. Kebutuhan dayanya berkisar antara 6,5 kW hingga 7,2 kW dengan tinggi total pengangkatan air mencapai 12 hingga 14 meter.

Teknologi tersebut menjadi solusi irigasi yang ramah lingkungan dan sangat cocok diterapkan di wilayah pertanian yang jauh dari jaringan listrik. Pemanfaatan energi surya juga mampu menekan biaya operasional sekaligus mendukung pertanian berkelanjutan.

Modernisasi untuk Swasembada

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan modernisasi pertanian menjadi kunci dalam menjaga ketahanan pangan nasional dan mewujudkan swasembada secara berkelanjutan.

“Modernisasi pertanian menjadi kunci dalam menjaga ketahanan pangan nasional dan mewujudkan swasembada secara berkelanjutan. Karena itu, setiap inovasi yang dihasilkan harus sampai kepada petani, diterapkan di lapangan, dan memberikan manfaat nyata bagi peningkatan produktivitas maupun kesejahteraan mereka,” ujar Amran.

Melalui Gelar Teknologi PENAS KTNA XVII, Kementerian Pertanian berharap semakin banyak inovasi yang diadopsi petani sehingga mampu meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha tani, serta memperkuat daya saing sektor pertanian nasional menuju swasembada pangan yang berkelanjutan. MEKTAN

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *