Malang – Upaya pemerintah memperkuat Brigade Pangan sebagai motor penggerak peningkatan produksi pangan nasional terus dilakukan melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia.
Sejalan dengan arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Brigade Pangan harus menjadi kelembagaan modern yang dikelola oleh sumber daya manusia yang profesional, adaptif, dan mampu mengakselerasi peningkatan produktivitas pertanian, berbagai program peningkatan kompetensi terus dilaksanakan.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Idha Widi Arsanti menegaskan bahwa penguatan kapasitas sumber daya manusia menjadi faktor penting dalam membangun Brigade Pangan yang mampu mengelola usaha tani secara profesional, memanfaatkan teknologi pertanian, serta memberikan pendampingan kepada petani di wilayahnya.
Mendukung kebijakan tersebut, Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan menyelenggarakan Pelatihan Brigade Pangan pada 24–26 Juni 2026. Kegiatan ini diikuti oleh pengelola Brigade Pangan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kompetensi teknis, manajerial, serta memperkuat sinergi antaranggota Brigade Pangan dalam mendukung percepatan swasembada pangan nasional.
Pelatihan yang berlangsung selama tiga hari tersebut menghadirkan berbagai materi, mulai dari penguatan kelembagaan Brigade Pangan, teknik budidaya tanaman, penggunaan alat dan mesin pertanian, pembuatan pestisida nabati, hingga diskusi dan berbagi pengalaman antarpeserta. Suasana pembelajaran berlangsung interaktif sehingga peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga membangun jejaring dan kolaborasi.
Salah seorang peserta, Miftakhul Huda, mengaku mendapatkan banyak manfaat selama mengikuti pelatihan. Menurutnya, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk saling mengenal antarpengelola Brigade Pangan sekaligus memahami karakteristik wilayah kerja masing-masing.
“Melalui pelatihan ini kami bisa saling mengenal, mengetahui kondisi wilayah masing-masing, sekaligus berbagi pengalaman mengenai kegiatan pertanian yang dilakukan di daerah kami. Ilmu yang kami peroleh tentu akan menjadi bekal untuk diterapkan di lapangan,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi materi yang diberikan narasumber karena dinilai aplikatif dan mudah diterapkan, khususnya mengenai pembuatan pestisida nabati yang dapat menjadi alternatif pengendalian organisme pengganggu tanaman secara lebih ramah lingkungan.
Saat ini terdapat empat Brigade Pangan di Kabupaten Malang yang terus berupaya meningkatkan kapasitas anggotanya. Bekal ilmu yang diperoleh dari pelatihan diharapkan mampu memperkuat kinerja Brigade Pangan dalam mendampingi petani serta mendukung peningkatan produktivitas pertanian di wilayahnya.
Peserta lainnya, Amak, menilai bahwa keberhasilan usaha tani tidak hanya ditentukan oleh penguasaan teknologi dan keterampilan budidaya, tetapi juga dipengaruhi oleh sikap mental, rasa syukur, serta kepedulian terhadap sesama.
Menurutnya, setiap ikhtiar yang dilakukan di lahan pertanian perlu diiringi dengan doa, semangat kebersamaan, dan kepedulian sosial. Ia juga membiasakan menyisihkan sebagian hasil panen sebagai bentuk rasa syukur sekaligus berbagi kepada pihak-pihak yang turut membantu proses budidaya hingga panen.
“Bagi saya, berbagi merupakan salah satu bentuk rasa syukur atas rezeki yang diberikan. Semoga kebiasaan baik tersebut membawa keberkahan sekaligus mempererat kebersamaan di lingkungan pertanian,” tuturnya.
Pelatihan ini menjadi bukti bahwa penguatan Brigade Pangan tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan teknis, tetapi juga membangun karakter, kolaborasi, dan profesionalisme para pengelolanya. Dengan bekal pengetahuan, keterampilan, dan jejaring yang semakin kuat, para peserta optimistis mampu mengembangkan Brigade Pangan yang modern, tangguh, dan berdaya saing sebagai garda terdepan dalam mendukung peningkatan produksi pertanian dan mewujudkan swasembada pangan nasional secara berkelanjutan. Lutfi Tri Andriani*






