Situbondo – Kementerian Pertanian terus berkomitmen untuk meningkatkan kompetensi generasi muda dalam manajemen keuangan usaha pelayanan jasa alsintan dan budidaya padi dalam rangka mendukung swasembada pangan berkelanjutan. Salah satunya melalui Pelatihan Teknis bagi Brigade Pangan (BP) Angkatan X di Kabupaten Situbondo yang dilaksanakan mulai tanggal 25 – 27 Juni 2026. Berlokasi di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kapongan, kegiatan ini melibatkan 10 orang anggota dari BP Pamor dan BP Agro Baluran.
Pelatihan ini dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Situbondo yang diwakili oleh Koordinator Penyuluh Pertanian, Eko Manial. Dalam sambutannya, Eko menyampaikan bahwa kegiatan pelatihan ini sangat bermanfaat untuk memberikan pembekalan bagi BP dalam pengelolaan usaha alsintan dan budidaya padi, oleh karena itu harus diikuti mulai dari awal sampai akhir.
“Butuh komitmen peserta untuk dapat meluangkan waktu dalam 3 hari ini agar materi yang diterima utuh dan mampu diimplementasikan di lapangan,” ungkapnya.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam berbagai kesempatan menyampaikan pesan kepada generasi muda, “Kalau mau sukses, maka Anda harus mempersiapkan diri 10 – 15 tahun sebelumnya, kemudian kebahagiaan akan menjemputmu. Tapi kalau bermain-main di usia produktif maka penderitaan yang akan menjemputmu”.
“Hanya dua pilihan, mau berjuang atau mau pasif. Kalau bisa keluarkan air mata pejuangan hari ini, jika tidak maka akan dijemput oleh air mata penyesalan,” imbuhnya.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Pertanian (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menyampaikan bahwa pemuda memiliki potensi besar untuk menjadi motor penggerak transformasi pertanian Indonesia.
“Generasi muda perlu terus difasilitasi salah satunya melalui pelatihan agar mampu menjadi motor penggerak perekonomian di perdesaan melalui modernisasi pertanian dari hulu hingga hilir”, jelas Santi.
Nining Hariyani sebagai Widyaiswara BBPP Ketindan yang mengajar pada pelatihan ini menyampaikan bahwa BBPP Ketindan hadir untuk memberikan pembekalan dan memantapkan rencana usaha dan pengelolaan keuangan bagi pengurus BP sebelum alsintan nanti diturunkan ke lapangan. Saat ini banyak petani yang belum memahami pentingnya pencatatan keuangan.
“Mereka belum menyadari kemana hasil kerjanya selama ini, mengapa keuntungan tidak jelas dan mengapa biaya produksi terasa mencekik. Hal tersebut dapat disebabkan oleh pengeluaran usahatani yang tidak terkontrol, pemasukan tidak tercatat dan pengelolaan keuangan tidak tertata dengan baik,”jelas Nining.
“Melalui kegiatan pelatihan ini BP harus menunjukkan kesungguhan untuk belajar pengelolaan keuangan mulai dari penyusunan rencana keuangan, cara mengakses sumber pembiayaan, menerapkan literasi keuangan dalam pengelolaan usaha dan melakukan analisis kelayakan usahatani baik usaha pelayanan jasa alsintan maupun budidaya padi kemitraan dengan petani”, imbuh Nining.
Tujuan pembiayaan pertanian ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, memperluas skala usaha dan keuntungan usaha Brigade Pangan, sehingga dapat menarik minat generasi muda terjun di bidang pertanian.
“Teknologi saja tidak cukup, tapi harus diiringi dengan keuntungan usahatani yang siginifikan untuk meningkatkan kesejahteraan petani”, pungkas Nining. Nining Hariyani*






