PM-AAS Mulai Diterapkan, Kementan Cetak SDM Pertanian Modern

Malang – Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan terus memperkuat komitmennya dalam mendukung transformasi pertanian nasional melalui sosialisasi Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS) kepada seluruh pegawai. Kegiatan ini bertujuan menyamakan persepsi sekaligus meningkatkan pemahaman terhadap implementasi sistem budidaya padi modern berbasis teknologi yang menjadi salah satu program strategis Kementerian Pertanian.

PM-AAS merupakan sistem pertanian intensif berbasis teknologi tinggi yang mengedepankan efisiensi, mekanisasi, dan presisi. Sistem ini mengadopsi praktik budidaya modern yang berkembang di wilayah Delta Arkansas, Amerika Serikat, melalui penerapan tanam benih langsung (tabela), mekanisasi di seluruh tahapan budidaya, pengelolaan air secara efisien dengan metode Alternate Wetting and Drying (AWD), serta pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani.

Dalam implementasinya, PM-AAS mengedepankan enam prinsip utama, yakni penanaman rapat dalam barisan, efisiensi penggunaan sumber daya, mekanisasi pertanian, pengelolaan usaha tani berbasis korporasi, intensifikasi produksi, serta penerapan teknologi yang disesuaikan dengan kondisi spesifik lokasi. Sistem ini juga memanfaatkan berbagai alat dan mesin pertanian modern, seperti direct seeder, drone pertanian, hingga combine harvester, guna meningkatkan efektivitas budidaya padi dari proses tanam hingga panen.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa modernisasi pertanian merupakan langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

“Kementerian Pertanian terus mendorong percepatan modernisasi pertanian melalui penerapan teknologi dan mekanisasi di seluruh lini usaha tani. Dengan memanfaatkan sistem pertanian modern, kita dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan daya saing sektor pertanian. Karena itu, pembangunan sumber daya manusia pertanian yang adaptif terhadap teknologi menjadi prioritas utama untuk mewujudkan swasembada pangan dan menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia,” tegas Mentan Amran.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menekankan bahwa keberhasilan modernisasi pertanian sangat ditentukan oleh kesiapan sumber daya manusia dalam mengadopsi inovasi dan teknologi.

“Transformasi pertanian tidak hanya berbicara tentang penggunaan alat dan teknologi, tetapi juga tentang kesiapan sumber daya manusia dalam mengoperasikan, mengelola, dan mengembangkan inovasi tersebut. Oleh karena itu, BPPSDMP terus memperkuat kapasitas SDM pertanian melalui pendidikan, pelatihan, dan pendampingan agar mampu mengakselerasi penerapan pertanian modern berbasis teknologi di seluruh wilayah Indonesia,” ujar Idha.

Kepala BBPP Ketindan, Nurul Qomariyah, Rabu (1/7/2026) menjelaskan sosialisasi PM-AAS merupakan langkah awal untuk membangun komitmen bersama seluruh pegawai dalam mengimplementasikan pertanian modern di lingkungan BBPP Ketindan.

“Sosialisasi ini kami laksanakan kepada seluruh pegawai BBPP Ketindan sebagai bagian dari implementasi program PM-AAS yang saat ini dikembangkan oleh Kementerian Pertanian. Kami ingin seluruh pegawai memahami konsep dan penerapan PM-AAS sehingga memiliki persepsi yang sama dalam mendukung modernisasi pertanian,” jelasnya.

Nurul menambahkan, implementasi PM-AAS di BBPP Ketindan tidak berhenti pada tahap sosialisasi. Sebagai bentuk nyata penerapan inovasi tersebut, BBPP Ketindan telah mengembangkan budidaya padi menggunakan sistem PM-AAS pada lahan praktik seluas 1.000 meter persegi.

“Alhamdulillah, di BBPP Ketindan kami telah mengimplementasikan budidaya padi dengan sistem PM-AAS pada lahan seluas 1.000 meter persegi dan seluruh proses penanaman telah selesai dilaksanakan. Kami berharap penerapan teknologi ini mampu menghasilkan panen yang optimal sekaligus menjadi media pembelajaran bagi peserta pelatihan dan berbagai pemangku kepentingan yang berkunjung ke BBPP Ketindan,” ujarnya.

Menurut Nurul, keberhasilan implementasi PM-AAS memerlukan dukungan seluruh pegawai sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing. Oleh karena itu, inovasi ini tidak hanya menjadi tanggung jawab penyelenggara pelatihan maupun pengelola lahan praktik, tetapi menjadi komitmen bersama seluruh keluarga besar BBPP Ketindan.

“PM-AAS merupakan inovasi yang perlu dipahami oleh seluruh pegawai BBPP Ketindan. Pengetahuan dan pengalaman implementasinya akan kami disebarluaskan kepada peserta pelatihan, penyuluh, petani, serta para tamu dan stakeholder yang berkunjung. Dengan demikian, BBPP Ketindan tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi contoh nyata penerapan pertanian modern yang dapat direplikasi di berbagai daerah,” pungkasnya.

Melalui implementasi PM-AAS, BBPP Ketindan diharapkan mampu menjadi model pembelajaran pertanian modern berbasis teknologi yang dapat mempercepat transformasi sektor pertanian Indonesia menuju sistem pertanian yang lebih maju, efisien, berdaya saing, dan berkelanjutan. Humas BBPP Ketindan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *