Kawal Kualitas Kebun Bibit Tebu Situbondo, UPT Pelatihan Kementan Percepat Swasembada Gula

Situbondo – Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat langkah percepatan swasembada gula nasional melalui pengawasan kualitas pembibitan tebu di daerah sentra produksi. Salah satunya dilakukan melalui kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) terhadap ratusan kebun bibit tebu di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.

Kegiatan yang berlangsung selama lima hari, pada 3–7 Maret 2026 tersebut melibatkan tim teknis dari Balai Besar Pelatihan Pertanian Ketindan yang merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah Kementan.

Peninjauan difokuskan pada 576 titik kebun bibit datar yang tersebar di wilayah Kabupaten Situbondo. Kabupaten Situbondo dikenal sebagai salah satu sentra produksi tebu di wilayah timur Pulau Jawa yang berperan penting dalam memasok bahan baku bagi sejumlah pabrik gula di Jawa Timur. Karena itu, pengawasan kualitas bibit menjadi langkah strategis untuk memastikan produktivitas tebu tetap terjaga.

Monitoring ini dilakukan sebagai bentuk intervensi pemerintah dalam memastikan rantai pasok industri gula berjalan optimal sejak tahap paling awal, yakni pembibitan. Tim teknis melakukan verifikasi langsung terhadap kelayakan kebun bibit sebelum benih disalurkan kepada petani.

Beberapa aspek utama yang menjadi fokus evaluasi meliputi luas lahan, kemurnian varietas, kesehatan tanaman, hingga kesesuaian kondisi agroklimat. Tahap pembibitan dinilai sangat krusial karena kualitas benih akan menentukan tingkat produktivitas tanaman hingga hasil panen di tingkat petani.

Salah satu anggota tim teknis dari Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan, Saptini Mukti Rahajeng, mengatakan bahwa pengawasan kualitas bibit merupakan langkah penting untuk menjaga keberhasilan budidaya tebu.

“Bibit unggul adalah fondasi utama produktivitas. Melalui pengawasan yang ketat, pemerintah berupaya meminimalisir risiko gagal panen di tingkat petani. Jika petani mendapatkan benih dengan kualitas yang terjamin, hasil tebangan per hektare serta nilai rendemen atau kandungan gula akan meningkat,” ujar Ajeng.

Selama pelaksanaan monev, tim tidak hanya melakukan penilaian, tetapi juga memberikan pendampingan teknis kepada para penangkar bibit lokal. Diskusi yang dilakukan di lapangan diharapkan mampu memperkuat standar produksi bibit serta memberikan rekomendasi perbaikan pola tanam yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.

Pemerintah berharap pengawasan kualitas yang dilakukan secara berkelanjutan dari hulu hingga hilir dapat meningkatkan daya saing produksi tebu di Jawa Timur. Selain itu, langkah ini juga diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus mempercepat tercapainya swasembada gula nasional.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan komitmen pemerintah untuk memberikan dukungan penuh kepada Provinsi Jawa Timur dalam meningkatkan produksi gula nasional. Menurutnya, Jawa Timur memiliki peran strategis dalam program pengembangan tebu nasional.

Ia menyebutkan bahwa provinsi tersebut menyumbang lebih dari 51 persen produksi gula nasional dengan luas areal tebu sekitar 245 ribu hektare yang tersebar di sejumlah daerah sentra, seperti Malang, Kediri, Magetan, Lumajang, hingga Situbondo.

“Jika program tebu di sini berhasil, itu artinya separuh dari target nasional berhasil,” kata Amran.

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Idha Widi Arsanti, menekankan pentingnya pengembangan kawasan tebu yang didukung oleh penguatan sumber daya manusia pertanian.

Menurutnya, percepatan swasembada gula tidak hanya bergantung pada perluasan areal tanam, tetapi juga pada peningkatan kapasitas petani, pemanfaatan teknologi, serta dukungan pembiayaan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) khusus tebu.

“Penguatan SDM pertanian dan dukungan pembiayaan menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas tebu sekaligus mempercepat tercapainya kemandirian gula nasional,” kata Santi. Ajeng*

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *