Pelatihan Brigade Pangan Angkatan IX Perkuat Manajemen Alsintan Petani Papua Selatan

MERAUKE – Upaya memperkuat kapasitas sumber daya manusia (SDM) pertanian terus dilakukan pemerintah melalui berbagai program strategis. Salah satunya melalui Pelatihan Brigade Pangan (Manajemen Alat dan Mesin Pertanian/Alsintan) Angkatan IX yang dilaksanakan selama tiga hari, 5–7 Maret 2026, di Distrik Semangga, Waninggap Kai, Provinsi Papua Selatan.

Pelatihan ini diikuti oleh 30 peserta yang berasal dari Brigade Pangan Sido Dadi dan Brigade Pangan Zhe Anim. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan kapasitas petani dalam pengelolaan alsintan guna meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mendukung program swasembada pangan nasional.

Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa penguatan kapasitas petani dalam penguasaan teknologi pertanian merupakan kunci peningkatan produksi pangan nasional.

“Modernisasi pertanian harus diikuti dengan peningkatan kemampuan sumber daya manusia di lapangan. Dengan penguasaan alat dan mesin pertanian yang baik, petani dapat meningkatkan efisiensi kerja, mempercepat proses budidaya, dan pada akhirnya meningkatkan produksi pangan nasional,” ujar Mentan Amran.

Senada dengan itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Idha Widi Arsanti, menyampaikan bahwa pelatihan brigade pangan merupakan salah satu strategi pemerintah dalam mendorong percepatan adopsi teknologi pertanian modern di daerah sentra produksi.

“Brigade pangan diharapkan menjadi motor penggerak modernisasi pertanian di wilayahnya. Mereka tidak hanya mampu mengoperasikan alsintan, tetapi juga mengelola pemanfaatannya secara profesional, terencana, dan berkelanjutan,” jelas Santi.

Pelaksanaan pelatihan hari pertama, Kamis (5/3/2026), diawali dengan pembukaan kegiatan dan pelaksanaan pre-test untuk mengukur tingkat pemahaman awal peserta. Selanjutnya, peserta menerima materi pertama mengenai pengenalan, pengoperasian, dan perawatan TR4 (Traktor Roda 4) yang disampaikan oleh Hasiana D. Samosir dan Wahida Ambe.

Setelah sesi teori, kegiatan dilanjutkan dengan praktik lapangan pengoperasian traktor roda empat yang dibimbing langsung oleh Eko Widodo. Dalam sesi ini, peserta diberikan kesempatan untuk mempraktikkan pengoperasian alat secara langsung di lapangan dengan pendampingan teknis. Metode ini memungkinkan peserta mengaplikasikan materi teori secara nyata sehingga pemahaman menjadi lebih komprehensif.

Pada hari kedua, Jumat (6/3/2026), pelatihan difokuskan pada pengoperasian alat tanam dan pengolahan lahan modern. Materi pertama mengenai pengenalan, pengoperasian, dan perawatan TR2 (Traktor Roda 2) disampaikan oleh Eko Widodo. Peserta dibekali pemahaman terkait cara kerja traktor roda dua, teknik pengoperasian yang benar, serta langkah-langkah perawatan agar alat tetap optimal digunakan. Materi kedua pada hari yang sama membahas pengenalan dan pengoperasian rice transplanter yang disampaikan oleh Hasiana D. Samosir dan Wahida Ambe. Dalam sesi ini, peserta mempelajari teknik tanam padi menggunakan mesin tanam modern yang dapat meningkatkan efisiensi tenaga kerja sekaligus mempercepat proses penanaman.

Selain materi teknis, peserta juga mendapatkan penguatan mengenai pentingnya manajemen penggunaan alsintan secara kelompok. Materi ini mencakup pengaturan jadwal operasional alat, sistem peminjaman, serta pembagian tanggung jawab pemeliharaan agar pemanfaatan alsintan dapat berlangsung optimal dan berkelanjutan.

Pada hari ketiga, Sabtu (7/3/2026), kegiatan difokuskan pada penguatan aspek administrasi dan kelembagaan brigade pangan. Materi Catatan Usaha Tani disampaikan oleh Wahida Ambe dan Hasiana D. Samosir, yang mencakup pembuatan rekening kelompok, rekening penyusutan alsintan, serta pencatatan transaksi operasional. Materi ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan peserta dalam mengelola keuangan brigade secara tertib, transparan, dan akuntabel, sehingga keberlanjutan pemanfaatan alsintan dapat terjamin dalam jangka panjang.

Sebagai bagian dari evaluasi kegiatan, panitia melaksanakan post-test dan evaluasi penyelenggaraan pelatihan. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta dibandingkan dengan hasil pre-test, khususnya dalam aspek pengoperasian alsintan serta pencatatan administrasi kelompok.

Dalam sambutan penutupnya, Hasiana D. Samosir menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah mengikuti pelatihan dengan antusias selama tiga hari pelaksanaan kegiatan.

“Melalui pelatihan ini diharapkan para anggota brigade pangan mampu menjadi operator alsintan yang andal sekaligus pengelola kelembagaan yang profesional, sehingga pemanfaatan teknologi pertanian dapat memberikan manfaat maksimal bagi petani di wilayahnya,” ujarnya.

Melalui Pelatihan Brigade Pangan Angkatan IX ini, diharapkan kapasitas sumber daya manusia pertanian di Distrik Semangga semakin meningkat. Dengan dukungan teknologi pertanian modern dan manajemen yang baik, produktivitas pertanian di Provinsi Papua Selatan diharapkan terus tumbuh dan berkontribusi nyata terhadap terwujudnya swasembada pangan nasional. Adhis Millia Windhy*

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *