Dosen Polije Dalami Pengelolaan SDM Produksi Agribisnis di UPT Pelatihan Kementan

MALANG — Pengelolaan sumber daya manusia (SDM) yang terencana dan terukur menjadi salah satu kunci keberhasilan usaha agribisnis. Untuk memperkuat kompetensi tersebut, Widyaiswara Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan, Asep Koswara, menyampaikan materi Pengelolaan SDM Produksi Agribisnis dalam Pelatihan Manajemen Agribisnis Politeknik Negeri Jember (Polije) yang diselenggarakan BBPP Ketindan pada 12–13 Oktober 2026.

Kegiatan ini membekali peserta dengan pemahaman dan keterampilan menyusun struktur organisasi, membagi tugas dan tanggung jawab, serta menetapkan indikator kinerja individu. Kompetensi tersebut penting untuk memastikan pengelolaan tenaga kerja berjalan efektif dan produktif dalam mendukung pencapaian tujuan usaha agribisnis.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa kualitas SDM menjadi faktor penting dalam pembangunan pertanian dan pencapaian swasembada pangan. Penguatan kompetensi SDM merupakan bagian dari upaya mendorong pertanian yang produktif, modern, dan berdaya saing.

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menekankan pentingnya penguatan kapasitas SDM pertanian untuk meningkatkan produktivitas dan mempercepat adopsi inovasi. Kompetensi manajerial menjadi bekal penting agar usaha agribisnis dikelola secara terarah dan profesional.

Dalam pemaparan materi, Asep menjelaskan bahwa pengelolaan SDM tidak cukup hanya dengan menempatkan tenaga kerja sesuai kebutuhan. Organisasi juga memerlukan pembagian fungsi yang jelas, tanggung jawab terstruktur, serta indikator kinerja individu (IKI) yang terukur. Dengan demikian, pelaksanaan pekerjaan dapat dipantau dan dievaluasi secara objektif berdasarkan target yang ditetapkan.

Pembelajaran berlangsung interaktif dengan melibatkan peserta dari kalangan dosen. Mereka aktif berdiskusi dan berbagi pengalaman mengenai penerapan konsep pengelolaan SDM dalam berbagai bidang usaha agribisnis.

Abdoel Djamali, misalnya, memberikan contoh penerapan indikator kinerja individu pada usaha agribisnis padi. Melalui contoh tersebut, peserta mendiskusikan cara mengukur kinerja tenaga kerja berdasarkan target dan hasil pekerjaan agar proses produksi dapat dipantau dan dievaluasi secara terukur.

Sementara itu, Wenny Dhamayanti mengangkat contoh desain organisasi pada usaha agrowisata. Contoh ini memperkaya diskusi mengenai pembagian fungsi, tugas, dan tanggung jawab, terutama pada usaha yang mengintegrasikan pertanian dengan layanan wisata.

Selain berdiskusi, peserta mendapat tugas mandiri menyusun rancangan pembelajaran dan pengembangan SDM dalam bentuk Term of Reference (TOR) Peningkatan Kapasitas. Melalui tugas ini, peserta diarahkan mengidentifikasi kebutuhan kompetensi, merumuskan tujuan kegiatan, menentukan sasaran peserta, serta menyusun rencana pengembangan SDM sesuai kebutuhan organisasi.

Pendekatan pembelajaran yang memadukan pemahaman konsep, diskusi, studi kasus, dan penugasan diharapkan membantu peserta menghubungkan materi dengan kebutuhan nyata di lapangan. Hasil pelatihan pun diharapkan dapat menjadi bekal untuk merancang tata kelola SDM yang lebih efektif.

Melalui Pelatihan Manajemen Agribisnis ini, BBPP Ketindan terus berkontribusi memperkuat kompetensi SDM pertanian, khususnya kemampuan manajerial untuk mengembangkan usaha agribisnis secara profesional, produktif, dan berkelanjutan. Asep Koswara*

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *