MALANG – Kelompok Wanita Tani (KWT) didorong untuk memanfaatkan pemasaran digital dan memperluas jejaring usaha agar produk pertanian semakin dikenal dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas. Penguatan kapasitas tersebut dilakukan Kementerian Pertanian melalui Pelatihan Pengolahan Hasil Pertanian bagi KWT Angkatan I yang diikuti 30 peserta dari 10 kabupaten/kota di Jawa Timur.
Pelatihan yang berlangsung, Rabu (28/10/2026) di Unit Pelaksana Teknis Pelatihan Pertanian, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur, menghadirkan Widyaiswara Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan, Adhis Millia Windhy, sebagai pemateri. Peserta dibekali pengetahuan dan keterampilan komunikasi pemasaran, optimalisasi media sosial, serta pembangunan jejaring kerja untuk mendukung pengembangan usaha kelompok.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia pertanian agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, mengembangkan usaha, dan meningkatkan nilai tambah produk.
“Pelaku usaha pertanian harus terus meningkatkan kemampuan dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Dengan pemasaran yang lebih luas dan pengelolaan usaha yang baik, produk pertanian memiliki peluang lebih besar untuk bersaing dan meningkatkan kesejahteraan petani.” ujar Menteri Amran.
Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menegaskan bahwa pelatihan harus mampu menjawab kebutuhan pelaku usaha pertanian dan menghasilkan keterampilan yang dapat diterapkan secara langsung.
“Pelatihan harus memberikan keterampilan yang dapat langsung diterapkan. Penguasaan pemasaran digital dan kemampuan membangun jejaring usaha diharapkan membantu kelompok wanita tani mengembangkan usaha secara mandiri, produktif, dan berkelanjutan.” ujarnya.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mempelajari komunikasi efektif, penyusunan strategi pemasaran, identifikasi pelanggan potensial, serta pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi produk. Materi dirancang untuk membantu peserta memahami cara mengenali kebutuhan konsumen, menentukan sasaran pemasaran, dan menyampaikan keunggulan produk secara tepat.
Adhis menjelaskan bahwa kualitas produk perlu diimbangi dengan kemampuan komunikasi pemasaran yang baik. Informasi mengenai keunggulan, manfaat, dan karakteristik produk harus disampaikan secara jelas dan menarik agar mampu membangun kepercayaan konsumen.
Peserta juga dibimbing menyusun strategi pemasaran digital melalui pemilihan platform yang sesuai dengan karakteristik produk dan target pelanggan, perencanaan konten promosi, serta pemanfaatan fitur media sosial. Selain itu, peserta mempelajari cara membangun interaksi dengan konsumen dan memantau respons terhadap konten sebagai bahan evaluasi efektivitas promosi.
Pembelajaran dilakukan melalui diskusi, praktik langsung, dan penugasan kelompok. Peserta berlatih menyusun konten promosi produk KWT dan mempraktikkan penyampaian informasi melalui media sosial. Dengan pendekatan tersebut, peserta tidak hanya memahami konsep pemasaran digital, tetapi juga memperoleh pengalaman dalam menyiapkan promosi yang dapat diterapkan pada usaha masing-masing.
Selain pemasaran digital, pembangunan jejaring usaha menjadi bagian penting dalam pelatihan. Kemampuan menjalin komunikasi dan kerja sama dengan pelanggan, mitra usaha, serta pihak terkait diharapkan membuka peluang pemasaran dan mendukung keberlanjutan usaha kelompok.
Melalui pelatihan ini, Kementan berharap KWT semakin mampu mengoptimalkan teknologi digital, memperluas jangkauan pasar, dan membangun kemitraan usaha. Penguatan kompetensi tersebut menjadi langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah produk pertanian sekaligus memperkuat peran wanita tani dalam mendorong usaha pertanian yang produktif, mandiri, dan berdaya saing Adhis Millia Windhy*






