Kuasai Metode Penyuluhan, Kementan Siapkan Pengelola P4S Jadi Fasilitator Pertanian yang Kompeten

Malang – Keberhasilan penyuluhan pertanian tidak hanya ditentukan oleh materi yang disampaikan, tetapi juga oleh ketepatan metode dalam membangun pengetahuan, keterampilan, dan mendorong petani menerapkan inovasi. Karena itu, pengelola Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) perlu memiliki kemampuan memilih dan menerapkan metode penyuluhan sesuai karakteristik serta kebutuhan sasaran.

Komitmen tersebut diwujudkan Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan melalui pembelajaran materi Penggolongan Metode Penyuluhan Pertanian dalam Pelatihan Metodologi Penyuluhan Pertanian bagi Pengelola P4S (Blended Learning), yang berlangsung pada 2–6 November 2026. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kompetensi pengelola P4S agar mampu menjadi fasilitator pembelajaran sekaligus penggerak penyebarluasan inovasi teknologi pertanian di perdesaan.

Materi disampaikan secara daring oleh Widyaiswara BBPP Ketindan, Asep Koswara. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa metode penyuluhan bukan sekadar teknik menyampaikan informasi, melainkan pendekatan pembelajaran yang harus mampu mendorong perubahan perilaku petani dan penerapan inovasi dalam kegiatan usaha tani.

Menurutnya, penyuluhan perlu diarahkan pada tiga aspek utama, yakni meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, mendorong penerapan teknologi, serta meningkatkan produktivitas usaha tani. Ketiganya merupakan rangkaian yang saling berkaitan untuk mewujudkan perubahan nyata, mulai dari perbaikan proses produksi, efisiensi biaya, peningkatan mutu hasil hingga pendapatan petani.

Peserta juga dibekali pemahaman mengenai penggolongan metode penyuluhan berdasarkan jumlah sasaran, indera penerima, dan pendekatan pembelajaran. Penguasaan berbagai kategori tersebut menjadi bekal penting bagi pengelola P4S dalam menentukan metode yang efektif dengan mempertimbangkan karakteristik petani, kondisi wilayah, serta tujuan penyuluhan.

Pembelajaran berlangsung interaktif melalui diskusi, tanya jawab, penggalian pengalaman, dan pembahasan contoh kasus penyuluhan di lapangan. Salah satu peserta, Yosia, turut menyampaikan tanggapan terhadap materi, sementara Annisa dilibatkan dalam penggalian contoh dan pengalaman lapangan. Diskusi ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk menghubungkan konsep metodologi penyuluhan dengan tantangan nyata dalam mendampingi petani.

Melalui proses tersebut, peserta didorong tidak hanya memahami teori, tetapi juga mengembangkan kemampuan analisis dalam menentukan pendekatan pembelajaran. Hal ini penting karena setiap kelompok sasaran memiliki karakteristik, kebutuhan, dan tingkat penerimaan inovasi yang berbeda. Dengan metode yang tepat, proses penyuluhan diharapkan lebih partisipatif, mudah dipahami, dan berdampak terhadap perubahan perilaku petani.

Penguatan kompetensi pengelola P4S sejalan dengan arahan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, yang menempatkan kualitas sumber daya manusia sebagai faktor penting dalam pembangunan pertanian. Mentan Amran menegaskan bahwa penyuluh pertanian merupakan garda terdepan dalam mengawal program pemerintah sekaligus mendampingi petani.

“Penyuluh adalah pasukan terdepan untuk swasembada. Merekalah yang tahu kondisi di lapangan,” tegas Mentan Amran.

Sejalan dengan arahan tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menekankan bahwa penyuluh memiliki peran lebih luas, tidak hanya sebagai penyampai teknologi, tetapi juga fasilitator, motivator, dan pendamping petani. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia pertanian perlu dilakukan secara berkelanjutan agar mampu menjawab dinamika dan kebutuhan petani.

Semangat penguatan kapasitas tersebut juga perlu diterapkan dalam pengembangan P4S sebagai lembaga pelatihan pertanian yang tumbuh dari, oleh, dan untuk masyarakat. Dengan penguasaan metodologi penyuluhan, pengelola P4S diharapkan mampu menyelenggarakan pembelajaran yang lebih efektif, membagikan pengalaman keberhasilan usaha tani, serta memperluas adopsi inovasi teknologi di lingkungan perdesaan.

Melalui pelatihan ini, BBPP Ketindan mendorong pengelola P4S agar tidak hanya mengenal berbagai metode penyuluhan, tetapi juga terampil memilih dan mengombinasikannya sesuai kebutuhan sasaran. Dengan demikian, P4S semakin berdaya sebagai mitra strategis dalam pengembangan sumber daya manusia pertanian, memperkuat kemandirian petani, dan mendukung terwujudnya pertanian maju, mandiri, modern, serta berkelanjutan. Asep Koswara*

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *