Praktik Micro Teaching, Pengelola P4S Asah Kemampuan Menjadi Fasilitator Pembelajaran Petani

Malang – Pengelola Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) dituntut tidak hanya memiliki pengetahuan dan pengalaman di bidang pertanian, tetapi juga mampu membagikannya secara efektif kepada petani. Kompetensi tersebut diasah melalui praktik micro teaching dalam Pelatihan Metodologi Penyuluhan Pertanian bagi Pengelola P4S yang berlangsung Rabu (4/11/2026).

Melalui praktik mengajar ini, peserta berkesempatan menguji kemampuan dalam menyampaikan materi, membangun komunikasi dengan sasaran, serta memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi dan kebutuhan peserta. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi sarana untuk meningkatkan kepercayaan diri dan keterampilan pengelola P4S dalam menjalankan fungsi edukasi di tengah masyarakat.

Sebelum praktik dimulai, widyaiswara memberikan pembekalan mengenai konsep, tujuan, dan tahapan pelaksanaan micro teaching. Peserta diarahkan untuk menyusun dan menyampaikan materi secara sistematis, komunikatif, serta menarik dengan mengombinasikan berbagai metode pembelajaran agar proses belajar berlangsung aktif dan partisipatif.

Dalam sesi praktik, dua peserta mendapat kesempatan tampil sebagai pengajar dengan mengangkat materi yang berbeda. Arifin membawakan materi Juru Sembelih Halal (JULEHA), sedangkan Rakhmad Hardiyanto menyampaikan materi Business Model Canvas (BMC).

Saat menyampaikan materi JULEHA, Arifin menggunakan metode simulasi untuk memperagakan tahapan penyembelihan hewan sesuai prinsip dan ketentuan halal. Pendekatan ini memberikan gambaran konkret mengenai keterampilan teknis yang perlu dikuasai sekaligus menunjukkan pentingnya peragaan langsung dalam menyampaikan materi yang membutuhkan keterampilan praktik.

Sementara itu, Rakhmad Hardiyanto mengajak peserta memahami sembilan elemen utama BMC sebagai kerangka dalam menyusun dan mengembangkan model bisnis. Melalui simulasi dan latihan penerapan konsep, peserta diajak melihat bagaimana BMC dapat dimanfaatkan untuk merencanakan usaha, termasuk dalam pengembangan agribisnis.

Kedua praktik tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh penguasaan materi, tetapi juga kemampuan pengajar memilih pendekatan yang tepat. Materi keterampilan teknis lebih efektif disampaikan melalui demonstrasi dan simulasi, sedangkan materi pengembangan usaha dapat diperkuat dengan diskusi, studi kasus, serta latihan penerapan konsep.

Penguatan kapasitas pengelola P4S ini sejalan dengan arah pembangunan pertanian yang didorong Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Transformasi pertanian tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga harus mampu meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan petani.

“Pertanian modern harus bertransformasi menjadi pertanian yang menjadikan petani sejahtera,” kata Mentan Amran.

Sejalan dengan itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menekankan pentingnya penguatan kelembagaan petani, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, serta pengembangan kemitraan usaha dalam mendukung swasembada pangan dan pembangunan pertanian berkelanjutan.

Dalam konteks tersebut, P4S memiliki peran strategis sebagai lembaga pelatihan yang tumbuh dari, oleh, dan untuk petani. Berbekal pengalaman nyata dalam menjalankan usaha pertanian, P4S menjadi ruang berbagi pengetahuan, keterampilan, dan inovasi yang dekat dengan kebutuhan masyarakat tani.

Karena itu, pengelola P4S perlu memiliki kemampuan komunikasi dan metodologi pembelajaran yang memadai agar pengalaman serta pengetahuan yang dimiliki dapat ditransfer secara efektif. Dengan demikian, P4S tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga mampu menjadi penggerak peningkatan kapasitas dan kemandirian petani di wilayahnya.

Melalui praktik micro teaching, peserta diharapkan semakin terampil merancang dan mengelola pembelajaran, percaya diri saat menyampaikan materi, serta mampu menerapkan metode penyuluhan yang tepat. Kompetensi tersebut menjadi bekal penting bagi pengelola P4S untuk memperluas penyebarluasan inovasi dan memperkuat kapasitas petani dalam menghadapi tantangan pertanian yang terus berkembang. Asep Koswara*

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *