Malang – Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pelatihan Kementerian Pertanian melalui Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan terus mendorong peningkatan kapasitas petani dan penyuluh melalui penguatan literasi keuangan serta pengelolaan alat dan mesin pertanian (alsintan).
Upaya tersebut disampaikan dalam kegiatan Bertani on Cloud (BOC) Volume 346 digelar Kamis (2/4/2026), dan mengangkat tema “Literasi Keuangan Usahatani Padi dan Pengelolaan Alsintan Brigade Pangan”.
Kepala BBPP Ketindan, Nurul Qomariyah, dalam sambutannya menegaskan, keberhasilan usahatani tidak hanya ditentukan oleh peningkatan produksi, tetapi juga oleh kemampuan petani dalam mengelola keuangan secara baik, tertib, dan terukur.
“Masih banyak usaha tani yang berjalan tanpa pencatatan yang jelas, sehingga petani tidak mengetahui secara pasti kondisi usahanya, apakah memperoleh keuntungan atau justru merugi,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa literasi keuangan usahatani mencakup perencanaan usaha, pencatatan biaya dan pendapatan, pemahaman arus kas, serta pengelolaan keuntungan untuk pengembangan usaha.
Selain itu, Nurul juga menekankan pentingnya pengelolaan alsintan secara profesional. Menurutnya, keberadaan Brigade Pangan sebagai bagian dari modernisasi pertanian harus didukung manajemen yang baik, tidak hanya dari aspek teknis operasional, tetapi juga dari sisi kelembagaan dan keuangan.
“Dengan pengelolaan yang profesional, alsintan tidak hanya menjadi alat bantu produksi, tetapi juga dapat berkembang menjadi unit usaha yang memberikan nilai tambah ekonomi bagi petani,” tegasnya.
Kegiatan ini menghadirkan Widyaiswara BBPP Ketindan, Laila Nuzuliyah, sebagai narasumber, serta diikuti oleh penyuluh pertanian, petani milenial, dan pengelola Brigade Pangan dari berbagai daerah.
Sejalan dengan hal tersebut, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa penguatan sektor pertanian harus berbasis pada manajemen usaha yang efisien dan terukur, termasuk dalam pengelolaan keuangan dan pemanfaatan alsintan.
“Petani harus naik kelas, tidak hanya mampu berproduksi, tetapi juga mampu menghitung biaya, keuntungan, serta mengelola usaha secara profesional agar lebih menguntungkan dan berkelanjutan,” ujar Amran.
Senada, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menyampaikan bahwa literasi keuangan menjadi kunci dalam mendukung keberlanjutan usaha pertanian modern, termasuk dalam pengelolaan alsintan oleh Brigade Pangan.
“Pengelolaan alsintan harus didukung pencatatan keuangan yang baik dan manajemen yang profesional agar mampu berkembang menjadi unit usaha yang berkelanjutan,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, BBPP Ketindan berharap para peserta dapat meningkatkan pemahaman dan keterampilan dalam menerapkan pencatatan keuangan usahatani secara disiplin, serta mengelola alsintan secara profesional.
Ke depan, Brigade Pangan diharapkan mampu berkembang menjadi kelembagaan usaha yang mandiri dan berdaya saing, tidak hanya sebagai penyedia layanan alsintan, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi pertanian di tingkat lapangan. Humas BBPP Ketindan






